KAJIAN KRITIS

Kumpulan kajian kritis

1. Ika Yuliani, S.Pd. (Matematik)

SUMBER       : ARTIKEL PADA KORAN MEDIA INDONESIA, 30 NOVEMBER 2009

JUDUL           : MENCARI (CARI) RELEVANSI UJIAN NASIONAL

PENULIS       : Prof. Dr. BAEDHOWI

OLEH IKA YULIANI, S. Pd.

SMP NEGERI 1 ARUT SELATAN

MGMP MATEMATIKA PRISMA

KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

TAHUN 2010

Relevansi Ujian Nasional Sebagai Penentu Kelulusan Siswa

1. Dari Segi Bahasa/tulisan:

Pada alinea pertama dalam artikel tersebut menyebutkan bahwa “…pentingnya pengujian dan tes baku seperti ujian nasional(UN), visi yang paling mendasar adalah berkaitan dengan ekuitas, baik dalam terminology kesempatan maupun outcome….”. Menurut hemat saya sebaiknya penggunaan istilah asing diberikan penjabaran ataupun arti, sehingga pembaca tidak perlu membuka kamus. Dan juga membuat pembaca mengerti maksud dari tulisan tersebut tanpa harus banyak berpikir. Seperti kata ekuitas, saat kita mencoba mencari istilah itu di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan kesembilan, kita tak akan mendapatinya. Sedangkan di dalam Kamus Inggris Indonesia oleh John M.E and Hasan S. Cetakan XXIII ada kata equity yang artinya kewajaran, keadilan. Sehingga maksud dari kalimat dalam tanda petik di atas menurut pengertian saya adalah : “ ujian nasional (UN), visi yang paling mendasar adalah berkaitan dengan ekuitas (keadilan/kewajaran), baik dalam terminology (batasannya) terhadap kesempatan maupun outcome (hasil akhir)…”.

Sedangkan pada alinea kedua tidak didapati kalimat yang membuat pembaca berpikir keras memaknai tulisan tersebut.

Pada alinea ketiga ada kata drilling yang juga tidak diberikan arti atau pengertian sebaiknya dituliskan …drilling (latihan-latihan soal)…. Tetapi diakhir kalimat pada alinea ketiga, ada kalimat yang menggunakan bahasa inggris dan sudah diberikan makna/artinya. Ini saya rasa lebih baik, mengingat pembaca tidak semuanya mengerti tentang istilah asing, sehingga pembaca akan lebih dimudahkan mengerti dari maksud di dalam tulisan aritkel tersebut.

2. Dari segi isi artikel

Dalam hal pelaksanaan Ujian Nasional (UN), saya setuju tetap dilaksanakannya UN untuk mengukur pencapaian kompetensi lulusan yang dilihat secara nasional. Seperti yang tertuang pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor  22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi  Untuk Satuan  Pendidikan Dasar Dan Menengah Dan Peraturan Menteri Pendidikan  Nasional Nomor 23 Tahun 2006  Tentang  Standar  Kompetensi Lulusan Untuk Satuan  Pendidikan Dasar Dan Menengah pada pasal 4 ayat:

UN dipandang perlu karena diperlukan sebuah alat untuk penilaian hasil belajar pada jenjang akhir setiap satuan pendidikan, yang dibuat secara nasional dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan. Karena jika dibuat oleh pihak pusat dalam hal ini BSNP, diharapkan evaluasi atau tes yang dihasilkan lebih obyektif dengan mengacu pada kisi-kisi yang standar kompetensi lulusan yang ada. Dari pada jika soal dibuat oleh masing-masing tingkat satuan pendidikan, dikhawatirkan justru akan semakin membuat banyak pihak berbuat curang demi mempertahankan nama baik keluarga, sekolah, dan mungkin juga daerah.

Dan untuk “pencapaian standar nasional” seperti yang tertulis pada alinea kedua, membuat guru bekerja lebih keras hanya untuk mengejar nilai semata-mata. Saya sependapat dengan pemikiran tersebut. Karena standar komp[etensi lulusan sudah digelontorkan dan harus dipelajari sehingga banyak guru hanya berpatokan pada isi dari standar tersebut, bagaimana cara mneyelesaikan materi ajar sesuai dengan tuntutan dari SKL nya. Sehingga kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi dari masing-masing siswa. Apalagi jika dalam satu kelas terdapat jumlah siswa yang melebihi kuota yang ditetapkan (> 32 orang), saya berpikir tentulah si guru akan kepayahan untuk menuntut siswa 75% tuntas dalam mencapai sebuah kompetensi dasar.

Akan lebih bijaksana jika UN yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat secara nasional ditujukan untuk mengevaluasi tingkat ketercapaian SKL dan bukannya untuk menentukan kelulusan dari para siswa. Jadi seberapa pun hasil yang dicapai oleh siswa itulah hasil dari pembelajaran yang dilakukan nya selama 3 tahun. Dan hasil UN akan lebih bijaksana lagi jika digunakan untuk kepentingan mengukur ketercapaian sebuah matapelajaran pada tiap-tiap daerah tanpa membebani siswa dengan embel-embel lulus atau tidak lulus. Jadi apakah UN masih perlu dilaksanakan dengan begitu banyak dilema yang mengiringi keterlaksanaanya. Semoga pemerintah peduli terhadap masukan-masukan dari berbagai pihak untuk dapt mengevaluasi relevan tidaknya UN pada saat sekarang ini.

 

KAJIAN KRITIS

Terhadap

BUKU BAHASA dan SASTRA INDONESIA UNTUK SMP/MTS KELAS IX

Oleh : Ranti, S.Pd

 

PENDAHULUAN

 

Kajian kritis ini termasuk jenis kajian kritis praktis yakni bertujuan menelusuri tulisan tertentu untuk keperluan pengembangan gagasan dalam sebuah Penelitian Tindakan Kelas. Pilihan bahan tertulis tentang evaluasi jatuh pada buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX.

 

Buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX yang menjadi bahan kajian ini ditulis oleh Sukini Iskandar . Buku ini diterbitkan oleh PT Widya Duta Grafika tahun 2005.

Secara umum buku ini sudah memberikan gambaran umum tentang berpidato .Buku ini berisi : menemukan hal penting dalam pidato yang didengar, menyimpulkan pesan isi pidato, menulis teks pidato, berpidato, dan materi pelajaran yang lainya.

 

Kajian terhadap buku ini bermanfaat untuk memperoleh pengetahuan tentang berpidato bagi siswa siswi yang akan berlatih pidato.

 

KAJIAN KRITIS

 

Permasalahan bahwa siswa dan siswi banyak yang tidak mampu berpidato, bahkan untuk mengeluarkan suara yang nyaringpun sulit apabila diberi tugas untuk berpidato.Buku pelajaran ini perlu secara rinci membahas masalah berpidato sehingga mudah untuk dipelajari murid. Buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX karangan Sukini Iskandar dianggap masih bersifat umum tentang materi berpidato. Tinjauan buku ini dilihat dari beberapa aspek yakni (1) performansi, (2) logika dan penalaran, (3) kerangka dan isi bacaan.

 

1. Performansi

Dari segi penggunaan bahasa baik itu pilihan kata, stuktur kalimat, maupun kepaduan paragraf, buku ini sudah baik sesuai dengan ragam Bahasa Indonesia yang baku. Namun dari segi tampilan buku ini perlu dibenahi diantaranya dari aspek :

1) Pengaturan paragraf setiap halaman terkadang tidak ideal dari segi jarak atau spasi terlalu dekat

Sehinggga sulit untuk dibaca.

 

2. Logika dan Penalaran

 

Buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX karangan Sukini Iskandar jarang

menggunakan definisi-definisi tapi langsung memberikan contoh.

 

3. Kajian Kerangka dan Isi

 

Buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX karangan Sukini Iskandar ini memuat

materi pelajaran pidato meliputi, menemukan hal penting dalam pidato yang didengar,

menyimpulkan pesan isi pidato, menulis teks pidato, dan berpidato.

Namun contoh-contoh pidato dalam buku ini tidak dilengkapi dengan langkah-langkah dalam

Menyusun teks pidato.

 

Kelengkapan lain yang diperlukan dalam buku ini adalah setiap contoh pidato pada pendahuluan

Selain ucapan salam pembuka juga ditambah dengan ucapan syukur pada Tuhan. Sedangkan pada

buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX karangan Sukini Iskandar contoh

pidato bagian pendahuluan hanya memuat ucapan salam pembuka saja.

 

PENUTUP

 

Buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs kelas IX karangan Sukini Iskandar ini sangat bermanfaat bagi murid maupun guru Bahasa Indonesia. Kekuranglengkapan buku ini pada beberapa aspek tidak mengurangi hal yang penting buku ini bagi para penggunanya. Semoga hasil kajian kritis ini bisa bermanfaat bagi kita semua Amin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s